Ketika Kesuksesan Menjadi Kegagalan di Mata Tuhan

Ketika Kesuksesan Menjadi Kegagalan di Mata Tuhan

 

Ke manapun aku pergi, aku melihat orang-orang di sekelilingku mengejar sesuatu. Beberapa belajar keras untuk mendapatkan nilai yang mereka inginkan, beberapa bekerja keras agar dapat dipromosikan, sedangkan yang lain mencari uang tambahan untuk membeli mobil dan rumah yang bagus. Meskipun hasil akhirnya berbeda, ada satu kesamaan yang mereka miliki: semua orang mengejar sesuatu. Semua orang ingin menjadi sukses.

Tapi mengapa begitu banyak orang mengejar kesuksesan? Apa definisi kesuksesan yang sejati? Adakah cara agar kita mendapatkan kepastian akan hal ini?

Begitu lama aku tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini—hingga suatu hari aku menemukan sebuah quote yang menunjukkan hubungan yang menarik antara kesuksesan dan kegagalan. Quote itu berbunyi: “Kegagalan adalah kesuksesan yang Tuhan tidak berkenan.”

Aku langsung melihat kebenaran di dalam quote tersebut. Hanya ada satu cara untuk mengukur kesuksesan—dengan standar Tuhan. Tapi seringkali bukan inilah yang kita lakukan. Malahan, kita mengukur kesuksesan menurut hal-hal fisik yang kita capai, bukan karena Tuhan yang berkenan atas kita. Kita jarang diam dan bertanya, “Apakah Tuhan berkenan atas kesuksesanku ini?”

Bayangkan skenario berikut ini: Bagaimana jika seseorang mampu hidup dengan gaya hidup yang mewah karena kekayaan yang dia dapatkan dari hasil korupsi? Atau bagaimana dengan seseorang yang menjadi CEO di sebuah perusahaan karena dia melakukan sabotase atas kompetitornya? Apakah kita akan menilai hidup mereka sukses?

Di mata dunia, mungkin ya. Tapi di mata Tuhan, “kesuksesan-kesuksesan” ini sesungguhnya adalah “kegagalan-kegagalan”.

 

 

Ketika Saul Gagal

Aku teringat akan sebuah perikop Alkitab dalam 1 Samuel 15, di mana Tuhan memerintahkan Saul untuk mengalahkan orang Amalek, dan menumpas semua yang ada di dalamnya (ay.3). Saul kemudian sukses mengalahkan mereka (ay.7), tapi berbeda dengan apa yang diperintahkan Tuhan untuk menumpas semua orang dan semua ternak, dia menangkap hidup-hidup Agag, raja orang Amalek, dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun. Dia menyelamatkan segala yang berharga (ay.8), dan dengan terang-terangan melawan perintah Tuhan.

Untuk para rakyat, Saul mungkin terlihat sukses dalam misinya, tapi di mata Tuhan, dia telah gagal dalam menjalankan misi-Nya sepenuhnya karena ketidaktaatannya. Meskipun banyak ternak yang telah dia habisi dan banyak orang Amalek yang telah dia tumpas, Tuhan sangat kecewa dengan Saul. Di ayat berikutnya, Tuhan berkata, “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku” (ay.11).

 

 

Apakah Aku Gagal?

Setelah membaca apa yang Tuhan ucapkan kepada Saul, aku mulai merefleksikan hidupku sendiri. Jika Tuhan dapat mengatakan pernyataan yang begitu keras kepada seorang raja yang telah Dia urapi, Dia juga dapat mengatakannya kepadaku. Aku tidak dapat membayangkan perasaanku jika Tuhan mengatakan kepadaku bahwa Dia menyesal telah menjadikanku pemimpin atau memberikanku talenta-talenta.

Benar, kita mungkin memiliki tangan yang terampil, muka yang cakep, dan pembawaan yang oke, tetapi jika emosi, pikiran, dan perbuatan kita tidak murni, Tuhan takkan berkenan atas kita. Kadang, kita bahkan mungkin seperti Saul: Kita dapat melakukan pekerjaan Tuhan, tapi tidak dengan cara yang menyenangkan-Nya. Misalnya, aku dapat mengajak jemaat menyembah dan memuji Tuhan dengan begitu percaya diri, tapi motifku bisa jadi keliru. Orang lain di sekitarku mungkin berpikir aku sukses dan aku berjalan dekat bersama Allah. Tapi Dia dapat melihat apa yang telah kuperbuat, langsung ke dalam hatiku (1 Samuel 16:7).

Jadi, kesuksesan yang sejati dicapai ketika apa yang kita lakukan berkenan kepada Tuhan. Daripada menanyakan diri kita bagaimana kita dapat sukses di mata dunia, kita seharusnya menanyakan diri kita bagaimana kita dapat sukses di mata Tuhan. Bahkan jika dunia tidak mengakui apa yang kita lakukan sebagai sebuah kesuksesan, berjuanglah untuk terus menyenangkan dan taat kepada-Nya.

Tuhan berkenan atas kita ketika kita menaati dan mendengarkan Dia, seperti yang dikatakan dalam 1 Samuel 15:22 yang berbunyi, “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.” Penampilan luar tidaklah berarti bagi-Nya, apa yang ada di dalam hati kitalah yang berarti bagi-Nya. Apakah kita menaati Dia hari ini? Apakah perasaan, pikiran, dan perbuatan kita murni di hadapan-Nya?

Kiranya ini menjadi doa kita hari ini, agar kita berjuang mencapai kesuksesan—di mata Tuhan.
Sumber ditulis Oleh Maleakhi P. S.
http://www.warungsatekamu.org/2016/08/ketika-kesuksesan-menjadi-kegagalan-di-mata-tuhan/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *