Memahami Kesuksesan Menurut Pandangan Alkitab

Memahami Kesuksesan Menurut Pandangan Alkitab

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,
yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya,
dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mazmur 1:1-3)

PROLOG

Semua orang ingin sukses! Sukses dalam karier dan usaha, memiliki keuangan yang mapan, kekayaan yang cukup dan keluarga bahagia adalah impian setiap orang. Tetapi kita tahu bahwa sukses lebih dari sekedar impian. Memimpikan sukses tidak akan membuat seseorang menjadi sukses. Sukses dapat diumpamakan seperti buah dan impian untuk sukses adalah benih. Benih apapun harus ditanam, bertumbuh, dan kemudian barulah menghasilkan buah. Ada kata-kata bijak yang mengatakan “knowledge is power but action gets things done”. Diantara impian dan kenyataan ada suatu proses yaitu suatu tindakan dan usaha nyata untuk merealisasikan impian tersebut.

Tidak ada masalah dengan kata “sukses” dan tidak masalah jika seseorang menginginkan sukses. Bagaimana cara meraih sukses itulah masalahnya. Ratusan buku berisi teori sukses dan cara meraih sukses telah ditulis. Tidak sedikit dari buku tersebut menawarkan cara sukses yang instan, cepat dan praktis, menghalalkan segala cara yang keliru dan merugikan orang lain. Ironisnya, banyak orang Kristen yang tergoda dengan tawaran tersebut. Sebenarnya, tidak ada cara instan dan mudah dalam meraih sukses. Kesuksesan adalah sebuah proses! Semakin besar kesuksesan yang ingin dicapai semakin besar proses yang harus dilewati. Jadi, tidak ada sukses yang dapat dibeli dengan harga tunai, melainkan semua harus dicicil setiap hari. Dan, uang muka untuk sukses adalah langkah pertama yang kita berikan untuk meraih impian kita.

KESUKSESAN DALAM PERSPEKTIF ALKITAB

Alkitab adalah buku panduan utama bagi iman dan praktek hidup Kristen (Yosua 1:8; Mazmur 1:1-3). Pemahaman yang benar tentang sukses berdasarkan perspektif Alkitab akan mendorong kita berkarya dan melakukan yang terbaik sesuai kemampuan kita dan pemakaian Tuhan atas hidup kita (Ulangan 8:18). Sebaliknya pemahaman yang keliru tentang kesuksesan dapat menjerumuskan seseorang ke dalam “jurang” kehancuran. Biasanya sukses yang merugikan orang lain diraih dengan cara memeras, menipu, curang, korupsi, membunuh dan menghalalkan segala cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran, moral dan hukum agama. Lalu, apakah kesuksesan yang sebenarnya? Dan bagaimana pandangan Alkitab mengenai sukses?
Pertama, kesuksesan adalah kemampuan untuk merealisasikankan seluruh aspek kehidupan yang terintegrasi secara utuh (3 Yohanes 1:2). Aspek-aspek kehidupan yang perlu perhatikan, yaitu: keluarga, karier dan perkerjaan, keuangan atau ekonomi, kepribadian yang matang, kesehatan yang prima, relasi dengan sesama, dan spiritualitas religi. Mengabaikan atau mengorbankan satu dari aspek-aspek ini dapat berakibat fatal. Sebagai contoh, sangat menyedihkan bila sukses dalam karier tapi gagal dalam mencapai kebahagiaan rumah tangga, atau banyak harta tetapi kesehatan buruk. Karena itu perlu mengintegrasi dan menyeimbangkan semua aspek kehidupan tersebut. Tetapi, dalam analisisi terakhir siapakah yang telah secara sempurna mampu mengintegrasi semua aspek tersebut?

Kedua, standar kesuksesan tidaklah sama bagi setiap orang. Bakat, potensi, kemampuan dan karunia setiap orang berbeda (Roma 12:3-8). Berbagai bakat dan kemampuan itu antara lain: atletik, artistik, arsitek, desainer, politisi, mekanik, matematis, pendidik, pemikir, teknokrat, birokrat, akuntan, pengacara, pembisnis, farmasi, medikal, dan lainnya. Meniru dan berusaha mengejar kesuksesan menurut ukuran orang lain adalah upaya memaksa diri dan mengingkari keberadaan pribadi kita. Memang benar bahwa kita perlu belajar dari orang lain sebagaimana dikatakan John C. Maxwell, “orang paling bijaksana adalah orang yang belajar dari keberhasilan orang lain”. Tetapi ini bukan berarti meniru sukses menurut ukuran orang lain. Sukses ialah bagaimana menjalani hidup dengan menjadi diri sendiri, melakukan yang terbaik sesuai potensi yang terus digali dan kemampuan pribadi yang terus ditingkatkan. Tidak ada standar tentang berapa besar suatu pencapaian untuk dapat dikatakan sukses. Alkitab sendiri tidak pernah menentukan bahwa sukses haruslah sesuatu yang besar. Dalam pandangan Tuhan, hamba dengan modal 5 talenta yang menghasilkan keuntungan 5 talenta dan hamba dengan modal 2 talenta yang menghasilkan keuntungan 2 talenta, sama-sama disebut sebagai “hamba yang baik dan setia” (Matius 25:20-23).

Ketiga, kesuksesan adalah filosofi hidup benar yang dijalani dengan benar. Disadari atau tidak, setiap orang memiliki filsafat hidup. Filsafat hidup merupakan ekspresi dari keunikan seseorang dan mencerminkan semua aspek kehidupannya. Filsafat hidup seseorang akan mempengaruhi perilaku dan jalan hidupnya. Memahami filsafat hidup yang benar dan menjalankannya dengan benar akan membawa dampak kesuksesan hidup. Alkitab berkata: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2). Di atas telah disebutkan bahwa sukses dapat diumpamakan seperti buah sedangkan impian untuk sukses adalah benih. Benih apapun harus ditanam, bertumbuh, dan kemudian barulah menghasilkan buah. Jadi, buah apa yang ingin kita tuai tergantung dari jenis dan kualitas benih yang kita tabur. Kristus mengatakan, “Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api” (Matius 7:16-19).

Keempat, kesuksesan bukanlah tujuan hidup melainkan suatu proses dan perjalanan hidup dalam mencapai tujuan Tuhan bagi hidup kita. Tuhan menjadikan segala sesuatu termasuk manusia bagi kemuliaanNya (Roma 11:36; Kolose 1:16). Hidup adalah sebuah perjalan linier dan setiap perjalanan pastilah memiliki tujuan. Menurut Alkitab, tujuan hidup tertinggi manusia sebagaimana ditegaskan dalam Katekismus Westminster adalah “untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya” (Roma 11:36). Karena itu, tujuan-tujuan lainnya dari hidup manusia baik yang bersifat personal, profesional (bisnis, organisasi, lembaga, dll), dan spiritual, semuanya harus diikat pada premis tujuan “untuk kemuliaan Allah” ini. Memenuhi tujuan hidup yang Tuhan inginkan bagi kita merupakan panggilan hidup yang tertinggi. Mother Theresa dari India, karena panggilan Tuhan rela meninggalkan kehidupan nyaman dan aman di biara, pergi melayani orang-orang miskin, pinggiran dan tak tersentuh di Calccuta. Ini merupakan contoh dari seorang yang memenuhi tujuan Tuhan dalam hidupnya.

Kelima, kesuksesan tidak dinilai dari rencana yang baik dan anggaran yang besar, tetapi dari hasil atau prestasi yang dicapai. Artinya, sukses harus dikaitkan dengan pencapaian hasil atau prestasi. Perencanaan yang baik dan matang itu penting, dan bahwa perencanaan yang baik adalah awal yang baik untuk meraih sukses, tetapi perencanaan hanya satu langkah dari langkah-langkah berikutnya. Jika tidak ada tindakan yang mengikuti untuk mewujudkannya maka perencanaan itu tidak mengasilkan apapun. Sebagai contoh, seorang atlet lari cepat menyadari bahwa start yang baik merupakan modal awal untuk meraih kemenangan, tetapi itu tidaklah cukup, karena ia akan disebut pemenang bila ia bisa lebih dulu mencapai garis finish. Sebab itu, hamba yang “sukses” dalam perumpamaan tentang talenta yang disampaikan Kristus dalam Matius 25:14-30 adalah hamba yang diberi modal dan “menghasilkan keuntungan”. Tuhan tidak membatasi kita untuk pencapaian dan prestasi setinggi apapun. Justru ia ingin kita berbuah lebat, seperti pohon yang ditanam ditepi sungai, yang tumbuh subur dan menghasilkan buah yang lebat (Mazmur 1:3; 92:13-16).

Keenam, kesuksesan tidak boleh bertentangan dengan kebenaran. Artinya, sukses apapun yang diraih harus sejalan dengan nilai-nilai kebenaran yang tertulis dalam firman Tuhan (Alkitab). Ujian yang menentukan benar atau tidaknya suatu kesuksesan dari Tuhan adalah kesesuaiannya dengan Alkitab, yaitu kesesuaiannya dengan norma, nilai-nilai moral dan kebenaran yang terkandung di dalam Alkitab (1 Tesalonika 5:21). Kebenaran selalu menghasilkan damai sejahtera, “Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya” (Yesaya 32:17). Kesuksesan yang dicapai dengan menerapkan kebenaran (firman Tuhan) pastilah menghasilkan damai sejahtera, sebab “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti” (Yesaya 48:18).

Ketujuh, kesuksesan tidak ditentukan sepenuhnya oleh manusia melainkan atas perkenan dan kehendak Tuhan (Yosua 1:8; Ulangan 28:1-13; Matius 6:33). Artinya, sukses melibatkan campur tangan Tuhan. Justru sukses yang tidak mengikutsertakan Tuhan merupakan suatu penghinaan terhadap Tuhan. Tuhan adalah pencipta dari semua. Tuhan adalah pemilik segalanya. Alkitab menyatakan “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya” (Mazmur 24:1 bandingkan Mazmur 50:10, 12). Dengan demikian, kehidupan kita di bumi adalah sebuah kepercayaan dari Tuhan. Waktu yang kita miliki di bumi, tenaga, kepandaian, kesempatan, hubungan, dan kekayaan, semua pemberian dari Tuhan yang Dia percayakan dalam pemeliharaan dan pengelolaan kita. Dengan demikian kesuksesan bukan semata-mata masalah sekuler tetapi menyangkut masalah spiritual yang berdampak kekal. Seperti yang dikatakan oleh Toni Evans “Kesuksesan tidak bisa disebut sekuler karena pemilik segala sesuatu adalah Tuhan. Kita tidak bisa membicarakan kesuksesan, tanpa menaruh perspektif Tuhan lebih dulu”.

EPILOG

Akhirnya, perlu diingat bahwa sukses di dunia bersifat sementara; sukses yang dari Tuhan bernilai kekal. Tuhan memberikan kesuksesan bagi kita supaya digunakan untuk memenuhi tujuan-tujuanNya. Jika kita bisa menunjukkan bagaimana berkat-berkat Tuhan dalam kehidupan kita mengalir kepada orang lain, maka Tuhan punya alasan untuk memberi kita kesuksesan. Jika Tuhan tidak punya alasan untuk memberi kita kesuksesan, maka satu-satunya cara untuk mendapatkan kesuksesan adalah cara yang terpisah dan berlawanan denganNya. Jika ini yang terjadi, maka kita akan membayar harga yang mahal untuk mendapatkannya. Karena itu, jadikan kesuksesan kita menjadi berkat bagi orang lain.

PENULIS : Oleh: Samuel T. Gunawan, SE., S.Th., M.Th 

lINK: http://artikel.sabda.org/memahami_kesuksesan_menurut_pandangan_alkitab

 

EFERENSI

Boa, Kenneth, Sid Buzzell & Bill Perkins, 2013. Handbook To Leadership. Terjemahan, Penerbit Yayasan Komunikasi Bina Kasih: Jakarta.
Blomberg, Craig L., 2011., Tidak Miskin Tetapi Juga Tidak Kaya. Terjemahan, Penerbit BPK Gunung Mulia: Jakarta.
Ezra, Yakoep., 2006. Succes Througgh Character. Penerbit Andi : Yogyakarta.
Evans, Tony., 2001., Cara Hidup Yang Luar Biasa. Terjemahan, Penerbit Nafiri Gabriel: Jakarta.
Gordon, Bob, 2000., Visi Seorang Pemimpin. Terjemahan, Penerbit Nafiri Gabriel: Jakarta.
Lazarus, Arnold A & Clifford N. Lazarus., 2005. Staying Sane in a Crazy World. Terjemahan, Penerbit PT. Bhuana Ilmu Populer: Jakarta.
Meyer, Paul. J., 2007. 24 Kunci Sukses. Terjemahan, Penerbit Andi: Yogyakarta.
Stamps, Donald C., ed, 1995. Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
Stanley, Andi, 2002., Visioneering: Bagaimana Mengubah Impian Anda Menjadi Kenyataan. Terjemahan, Penerbit ANDI: Yokyakarta.
Susanto, Hasan., 2003. Perjanjian Baru Interlinier Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, jilid 1 dan 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
Susilo, Willy., 2013. Membangun Karakter Unggul. Penerbit Andi : Yogyakarta.
Tomatala, Yakob., 1998. Manusia Sukses: Manajemen Sumber Daya Manusia Mengatasi Tantangan Menjadi Pemimpin Yang Berhasil. Penerbit YT Leadership Foundation: Jakarta.
Warren, Rick., 2013. Untuk Apa Aku Ada Di Dunia Ini? Terjemahan, Penerbit Immanuel : Jakarta.
Maxwell, John C., G.I, 2010. Leadership Gold. Terjemahan, Penerbit Immanuel: Jakarta.
Williamson, G.I, 2006. Katekismus Singkat Westminster. Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *